Dian Wong : Srikandi Pers Rutin Santuni Anak-Anak Yatim Dan Orang Tua Jompo

INDONESIASATU.CO.ID:

Slawi. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Di kabupaten Tegal bukan negara yang hadir tapi Dian .Wong’ Komalasari Srikandi pers seolah hadir mewakili negara ditengah bermunculannya anak-anak Yatim yang luput dari keterpeliharaan negara.

Dian Wong demikian panggilan akrabnya hingga saat ini intens menyantuni 37 anak yatim bahkan termasuk 11 orang tua jompo. Setidaknya ada kepuasan batin ketika melakukan kegiatan sosial itu yang dikaitkan dengan pengalaman dirinya saat bereksplorasi dilapangan dalam berbagai liputan.

Profesi yang banyak berinteraksi dengan kondisi kemiskinan masyarakat menciptakan mentalitasnya terasah pada sense of people society tanpa komando negara spontan melakukan ‘advokasi’ terhadap situasi kemiskinan masyarakat diwilayah liputannya itu sendiri. Sebuah idealisme Jurnalis. Tanpa harus melewati uji kompetensi wartawanpun sudah teruji kompetensinya sebagaimana sejatinya insan pers. Peka terhadap lingkungan tanpa perlu rekomendasi dari lembaga pers.

Perjalanan hidup Dian Wong cukup berliku. Berawal sebagai seorang pegawai Bank yang terimbas PHK lalu menjadi buruh cuci dan setrika serta terakhir karena ada potensi sebagai seorang Wartawan, dia dibawa salah seorang Wartawan senior yang kemudian terlatih dan menjadi seorang Wartawan media lokal di daerah Brebes.

Perempuan beranak empat itu sempat hidup sendirian menanggung anak-anak dan kedua orang tuanya. Disaat keadaan kekurangan, anak-anak kelaparan dan kedua orang tuanya dalam keadaan sakit itulah Dian Wong melakukan pekerjaan sebagai buruh cuci dibeberapa tetangganya.

“ Saya bekerja seadanya sebagai buruh cuci dan setrika. Sering juga siang dan malam hari saya menjahit. Hingga suatu hari saya bertemu pak Kadis wartawan senior Brebes lalu saya dimasukan ke medianya pak Laban,” Tutur Dian Wong pada www.indonesiasatu.co.id yang sebelumnya pernah sebagian uneg-unegnya disampaikan dalam forum FORBEST sebuah group media komunikasi WhatsApp, Jumat (31/8).

Menurutnya, berbagi rejeki sudah menjadi kebiasaan sejak beraktifitas sebagai Wartawan dilapangan.

“ Dulu setiap ditengah perjalanan liputan, saya sering menjumpai anak-anak kecil yang keluarganya cukup menderita. Saya sering mencatat keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesusahan itu. Pada suatu ketika saya dapat rejeki seberapapun, saya pasti kembali lagi ke keluarga yang pernah saya kunjungi dan berbagi,” Kenang Dian Wong.

Baginya setiap mendapatkan rejeki maka yang diingat selalu memprioritaskan anak-anak yatim. Kenangan itu yang menempa dirinya lebih concern pada nasib anak-anak yatim. Seperti sebuah adagium manusia berusaha namun Tuhanlah penentu segalanya. Nampaknya rejeki Dian Wong tak terbendung lagi. Pekerjaan sampingan selain beraktifitas sebagai seorang Jurnalis, banyak pesanan Pengusaha meubel mengalir ke dirinya.

“ Setiap dapat rejeki, saya utamakan anak-anak yatim dan fakir miskin. Karena saya ingat saat anak saya kelaparan. Sisanya saya belikan bahan untuk saya jahit dibantu satu orang tukang jok.. Saya jadikan satu stel kursi dan saya tawarkan ke toko-toko meubel. Alkhamdulillah banyak toko meubel yang pesan hingga sekarang saya punya 23 karyawan, saya punya prinsip tidak akan menabung lebih baik uangnya saya gunakan untuk modal usaha alkhamdulillah berkembang” Katanya.

Potret Dian Wong, potret kealpaan negara (pemerintahan) dalam merespond kondisi lapangan. Dian Wong hadir menjadi sedikit pelipur lara bagi kaum fakir miskin yang belum terpelihara oleh negara. Bahkan Dian Wong bertarung merespond situasi single fighter tanpa konsep kelembagaan tanpa dukungan seorang donaturpun.

“ Saya tidak punya satu donaturpun tapi memang sudah saya niatkan dari awal hasil saya dilapangan dan usaha kecil saya niatkan untuk mereka. Berbuat baik tidak harus sedekah yang banyak. Tapi dengan keikhlasan bahkan sekalipun memberi sedikit makan pada kucing disekeliling rumah kita Insya Allah rejeki itu akan mengalir setiap hari,” Sambungnya.

Pastinya kini sudah 37 anak yatim dan 11 orang jompo turut menikmati hasil keringat Dian Wong yang 90% penghasilannya difokuskan bagi mereka. Kini Dian Wong bercita-cita membuatkan Pesantren atau semacam rumah yang nyaman untuk menampung anak-anak yatim untuk tidak beresiko menajdi anak-anak terlantar maupun gelandangan serta orang jompo yang menurutnya membutuhkan perhatian kasih sayang.

“ Saya punya cita-cita kepengin punya pesantren buat anak-anak yatim dan rumah jompo untuk merawat orang tua yang terlantar. Jadi bukan panti tapi rumah yang nyaman buat orang tua yang butuh perhatian dan kasih sayang,” Pungkasnya. (Anis Yahya)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita