Film Wage Hadir Untuk Merayakan Hari Sumpah Pemuda

INDONESIASATU.CO.ID, JAKARTA ; Film Wage yang mengisahkan hidup dan perjuangan komponis lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman yang merupakan salah satu tonggak peringatan Hari Sumpah Pemuda 2017 dari produksi Opshid media untuk Indonesia dan garapan sutradara John De Ranta, tayang perdana di bioskop Djakarta Therater dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Jakarta, Jumat (29/10)untuk para kalangan pelajar, pendidik, media massa,blogger serta tokoh-tokoh masyarakat.

Ada beberapa tokoh masyarakat hadir dalam penayangan perdana Wage, di antaranya sejarawan Asvi Warman Adam, Sukmawati Sukarno Putri, Bens Leo dan Salim Said. 

Supratman menjadi simbol identitas bangsa semenjak mula pertama mengumandangkan lagu Indonesia Raya bersamaan dengan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928," kata De Rantau, usai penayangan perdana Wage itu.


Sukmawati Soekarnoputri mengatakan Film Wage ini berkesan bagus secara arsitistik dan yang saya mau sambungkan dari konten sejarahnya tentang bahasa Indonesia yang sudah menjadi suatu syarat suatu negara, ujar Sukamati.

Bung Karno yang merupakan ketua pertama dari partai nasional Indonesia yang di dirikan beliau pada tahun 1927 dimana bagi Bung Karno partai itu alat perjuangan politik yang pastinya untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia

Merdeka pada waktu itu adalah kata terlarang, siapapun yang bicara akan ditangkap dan dijeboskan ke penjara atau di buang

Pada waktu Kongres Sumpah Pemuda,lagu Indonesia Raya di nyanyikan dengan kalimat mulia-mulai tetapi jika tidak salah saya keliru setelah Indonesia merdeka oleh Bung Karno kata Mulia diganti Merdeka, ungkap Sukmawati.

Kita disini harus bisa berbangga karena Lagu Indonesia Raya bukan hanya rasa syukur, Cinta Tanah Air tetapi ini merupakan doa kepada Tuhan, tutur Sukawati.

Bens Leo selaku pengamat musik dan entertainment Indonesia mengatakan yang kita nyakini bahwa melalui film Wage ini lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara 3 versi yang saat ini lagi digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalu pak menteri, ujar Bens

Bens berkata kita tidak perlu mendebatkan lagu Indonesia Raya tetapi film Wage sudah menjawab sendiri dan film ini kita melihat Wage berkarya tidak hanya Lagu Indonesia Raya juga lagu-lagu yang lain.

Jika kita menonton Film Wage ini dari awal sampai akhri setiap sceennya jika kita menontonnya tidak capek karena film ini dari gambarnya dan lain-lain mengiring kita untuk mengetahui sejarah dengar Benar, ungkap Bens

Wage bukan sekedar biopik melainkan drama noir, cerita perburuan buronan dengan polisi dan penjahatnya justru Wage. Banyak hal dalam kehidupanya yang belum diketahui masyarakat, termasuk jurnalis dan novelis , sebut John yang sebagai kolektor berhasil memiliki sebuah buku langka bertajuk Perawan Desa karya Wage

Andy Shafik selaku produser  menambahkan  “Salah satu inti terpenting film WAGE adalah lagu asli Indonesia Raya yang seharusnya dinyanyikan tiga stanza, bukan berhenti hanya pada stanza pertama. Dua stanza berikutya sangat penting karena justru berisi doa dan harapan bagi tanah air kita",ujar Andy .(Rika)