Harga Tetap Anjlok, Ada Apa Dengan Pemerintah Daerah Terkait Bawang Merah?

INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Harga bawang merah terus menurun hingga saat ini. Keberadaan komoditi Bawang Merah di Kabupaten Nganjuk atas anjloknya harga tersebut dinilai belum optimal. Pemerintah harus segera mencari terobosan untuk mengangkat petani bawang merah yang semakin terpuruk.

“Sudah terjadi di masyarakat harga bawang merah anjlok. Petani terus merugi karena biaya operasional tidak bisa ditutup dari penjualan hasil panen,” ujar Arbayana KP anggota dewan dari fraksi Demokrat di ruangan fraksi demokrat Nganjuk, Jumat (14/9/2018).

Dengan harga tersebut maka petani lebih baik tidak menjualnya karena berdasar pengalaman sebelumnya biasa dipermainkan para pengumpul yang mempunyai gudang cukup besar untuk menjadi stok.

Informasi yang dihimpun wartajatim.com, harga bawang merah terus anjlok di sejumlah kecamatan sentra produksi. Anjloknya harga tersebut hingga Rp 7.500 per kilogram (kg) yang jauh di bawah biaya produksi. 

Para petani merasa kecewa dengan pemerintah yang tak kunjung menyelesaikan masalah harga. "Kalau menanam bawang tapi rugi terus buat apa, mending mogok tanam saja,” kata budi petani asal Desa Ngrami, Sukomoro

Selama ini, kata dia, pemerintah tidak memihak para petani ketika terus merugi dan sampai kekurangan modal untuk tanam bawang, pemerintah tidak pernah melihat dan membantu. Tetapi ketika harga bawang sedikit naik, mereka ramai-ramai melakukan kunjungan, memberikan bantuan ini itu dan langsung impor dari negara lain.

“Belum ada terobosan dari para pihak yang terkait agar petani tidak semakin merugi dan terpuruk,” kata anggota Legislatif Komisi I itu.

Untuk itu, Arbayana mendesak agar pemerintah  harus lebih aktif dalam menyuarakan dan mencari solusi atas persoalan bawang merah. Apalagi, tujuan pemerintah adalah mewujudkan agribisnis bawang merah. 

Produksi bawang merah terintegrasi untuk kesejahteraan petani dan seluruh pemangku kepentingan bawang merah, khususnya petani bawang merah.

Reporter : kusno lindu aji

Editor : syarief 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita