Santri, Sederhana dalam Sikap dan Besar dalam Karya

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Pondok Pesantren Al-Ihsan Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur merayakan Hari Santri Nasional (HSN) dengan upacara menggunakan sarungan dan nonton bersama (nobar) film Sang Kiyai. Film yang menceritakan kisah perjuangan KH Hasyim Asy’ari dan santri melawan penjajah ini diputar setelah upacara selesai.

Pembina upacara Tunggul Prawoto mengingatkan para santri untuk terus bersikap sederhana dalam penampilan dan sikap. Namun besar dalam karya dan semangat mencari ilmu serta mengabdi untuk masyarakat. Kesederhanaan merupakan karakter yang membuat santri tak besar kepala walaupun menjadi pejabat negara maupun ulama.

“Santri harus tetap menjadi santri dimanapun dan dalam keadaan apapun. Apa itu santri?, santri adalah orang yang berilmu tinggi tapi tetap hormat dengan kiai, guru dan keluarga. Sederhana, tidak sombong dalam bersikap. Karekter seperti ini yang membuat harga tawar santri tinggi,” jelasnya, Senin (22/10).

Diera serba canggih ini, Tunggul juga meminta santri tidak hanya bisa ngaji kitab, mimpin tahlil dan bagian doa. Tapi santri juga harus bisa mengisi pos-pos umum seperti pertambangan, teknologi, perdagangan. Dengan begitu santri bisa mewarnai setiap sendi kehidupan masyarakat dan menularkan karakter khas santri seperti jujur, kerja keras, nasionalis.

“Santri jangan takut tatkala terjun di masyarakat. Silakan mengabdi sesuai keahlian masing-masing. Tak harus jadi kiai semua. Masih banyak ladang dakwah lainnya. Bisa lewat dagang dengan jadi pedagang jujur, atau pejabat yang tulus melayani masyarakat maupun pengusaha sukses,” ujarnya.

Sementara itu, pengurus Pesantren Al-Ihsan Khoirul Muslimin menjelaskan tujuan pemutaran film Sang Kiyai untuk memompa semangat santri. Karena bersatunya kiai dan santri bisa menghasil kan sesuatu yang besar pula. Oleh sebab itu, santri tak boleh meninggalkan kiai berjuang sendirian.

“Film ini menggambarkan bagaimana resolusi jihad muncul dan membakar semangat para santri mengusir penjajah. Kalau dalam kehidupan sekarang bisa diwujudkan dalam bentuk membantu kiai dakwah di masyarakat. Kiai dan santri satu kesatuan yang tak boleh dipisah. Tidak ada istilah mantan guru atau mantan murid. Karena hubungan itu abadi,” tandasnya.

Reporter : oji

Editor : Abdurrahman

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita