Unik, Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang Buka Kelas Online Untuk Belajar Kaligrafi

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur membekali para santrinya dengan keahlian seni kaligrafi dengan metode sanad taqlidi (manhaj hamidi). Para santri pecinta kaligrafi tersebut tergabung dalam Sekolah Kaligrafi AL qur-an (Sakal).

Menurut salah satu pengurus Sakal Zainul Mujib, Pondok Pesantren Denanyar dengan Sakalnya merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Jombang yang konsentrasi pada seni kaligrafi secara mendalam. Para santri yang berada di dalam Sakal setiap hari dituntut untuk membuat karya baru.

“Sakal ini dibentuk pertama kali oleh beberapa santri dari asrama Sunan Ampel Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Hingga kini Sakal terus eksis dan melahirkan banyak kaligrafer kelas dunia,” jelasnya, (17/7)

Mujib menambahkan lembaga pendidikan Khat ini juga membuka diri untuk masyarakat umum yang ingin belajar kaligrafi maupun sekedar memperbaiki tulisan arab saja. Dan proses belajarnya pun gratis tanpa di pungut biaya.

Hingga saat ini Sakal membuka tiga model pembelajaran bagi yang ingin belajar kaligrafi. Kelas pertama yaitu kelas online, waktu belajarnya satu minggu sekali dan materi khatnya bertahap. Dan untuk biaya gratis buat semua golongan.

“Sekarang kita buka metode belajar khat atau kaligrafi dengan cara online. Ini untuk menjawab tantangan zaman. Nanti semua konsep belajarnya kita pandu lewat akun Instagram dan Facebook termasuk mengirim hasil karyanya. Sistem belajar seperti ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan jarak,” tambah Mujib.

Model pembelajaran kedua yaitu kelas reguler dengan sistem pembelajaran setiap hari kecuali hari jumat. Untuk waktunya dimulai pukul 16.00-17.00 WIB serta pukul 19.00-21.00 WIB dan bertempat di lantai satu Auditorium Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun model pembelajaran ini dikenai tarif super murah yaitu Rp. 50 ribu setiap bulan.

Model terahir yaitu kelas non reguler dan waktu pembelajaran sesuai kesepakatan antara guru dan siswa. Dan semua tanpa biaya alias gratis. Dari sistem pembelajaran ini banyak para pecinta kaligrafi dari berbagai daerah di Nusantara yang datang ke Denanyar untuk belajar khat.

“Lulusan Sakal tersebar dimana-mana dan bahkan banyak alumni kita yang berkompetensi pada perlombaan kaligrafi Internasional. Untuk di Jawa Timur kita sudah langganan juara terutama waktu MTQ. Pialanya numpuk dilemari,” beber Mujib.

Kedepan, Mujib dan pengelola Sakal bercita-cita menjadikan Indonesia kiblat kaligrafi dunia. Indonesia sebagai negara muslim terbesar tidak hanya dilihat dari jumlah manusianya tapi juga rentetan karyanya yang melimpah.

“Kita disini berharap Indonesia jadi kiblat seni khat dunia, minimal nomor dua setelah negara Turki. Saat ini kita sedang merintis kesana dengan kerja keras semua pasti bisa,” tandanya. (Syarif Abdurrahman/kusnoaji)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita